
Jurnal Psikologi, Volume 10 Nomor 1, Juni 2014
orang tua memiliki dampak serius dalam ta-
hapan perkembangan remaja.
Masa remaja yang merupakan tong-
gak penting dalam pembentukan identitas
tentunya sangat membutuhkan dukungan
dari orang-orang yang dicintainya, dalam hal
ini orang tua. Orang tua yang menanamkan
nilai-nilai dasar, menyediakan kasih sayang,
dukungan baik berupa moril maupun materil,
menjadi role model bagi anaknya.
Kematian orang tua menjadi peris-
tiwa yang sangat berarti bagi remaja karena
dengan demikian keluarganya tidak lagi utuh.
Akan banyak perubahan dan penyesuaian
yang terjadi. Hal ini juga tidak menutup ke-
mungkinan dapat menimbulkan konflik dalam
diri remaja.
Berdasarkan uraian di atas maka tu-
juan penelitian ini adalah untuk memahami
makna kematian orangtua bagi remaja. Meng-
gali bagaimana remaja menghadapi kematian
orang tua. Adapun rumusan masalah yang
ingin peneliti gali dalam penelitian ini adalah:
Apa Makna Kematian Orangtua Bagi Remaja
dan bagaimana remaja menghadapi kema-
tian orangtua.
Kematian
Kematian merupakan fakta biologis,
akan tetapi kematian juga memiliki dimensi
sosial dan psikologis. Secara biologis kema-
tian merupakan berhentinya proses aktivitas
dalam tubuh biologis seorang individu yang
ditandai dengan hilangnya fungsi otak, ber-
hentinya detak jantung, berhentinya tekanan
aliran darah dan berhentinya proses perna-
fasan. Ismail (2009) mengatakan bahwa se-
cara medis kematian dapat dideteksi yaitu
ditandai dengan berhentinya detak jantung
seseorang. Namun pengetahuan tentang ke-
matian sampai abad moderen ini masih san-
gat terbatas. Tidak ada seorangpun yang tahu
kapan dia akan mati. Karena itu tidak sedikit
pula yang merasa gelisah dan stress akibat
sesuatu hal yang misterius ini. Dimensi psikol-
ogis dari kematian menekankan pada dinami-
ka psikologi individu yang akan mati maupun
orang- orang di sekitar si mati baik sebelum
dan sesudah kematian (Hartini,2007).
Sihab (2008) mengatakan bahwa ke-
matian pemutusan segala kelezatan duni-
awi, dia adalah pemisah antara manusia dan
pengaruh kenyamanan hidup orang- orang
yang lalai. Hal ini sejalan dengan firman Allah
dalam Al-Qur’an “Dimana saja kamu berada,
kematian akan mendapatkan kamu, kendati-
pun kamu di dalam benteng yang tinggi dan
kokoh” (Annisa:4:78). Maut juga disebut se-
bagai pengancam hidup bagi manusia, seh-
ingga kebanyakan dari individu takut akan
kematian itu sendiri. Berdasarkan uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa kematian ter-
jadi ketika berhentinya proses aktivitas dalam
tubuh biologis seorang individu yang ditandai
dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya
detak jantung, berhentinya tekanan aliran da-
rah dan berhentinya proses pernafasan serta
terhentinya hubungan manusia dengan alam
dunia.
Subjek dalam penelitian ini adalah re-
maja. Remaja berasal dari kata adolensence
(remaja) masa perkembangan transisi antara
anak-anak menjadi dewasa yang mencakup
perubahan biolologis, kognitif, dan sosial
emosional (Santrock, 2003). Sedangkan men-
urut Hurlock remaja adalah tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti
yang lebih luas mencakup kematangan men-
tal, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1997).
Salah satu peristiwa hidup yang diha-
dapi remaja adalah kematian anggota kelu-
arga dicintai atau kematian sendiri yang akan
datang kepada mereka yang mengancam
jiwa. Kematian bukan masalah yang biasa
bagi remaja. Sekitar 4% remaja di Amerika
Serikat kehilangan orang tua karena kema-
tian sebelum mereka mencapai usia 18, dan
1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua
tunggal karena kematian (US Biro Sensus,
1993).
Menghadapi kematian orang tua di
usia dini merupakan ujian yang berat bagi
setiap remaja. Sebagaimana penelitian sebe-
lumnya yang telah dilakukan oleh Sari yang
berjudul Grief (Kedukaan) Pada Remaja Pas-
ca Kematian Ayah. Adapun hasil penelitian ini
menunjukkan gambaran grief yang dialami re-
maja pasca kematian ayah dapat dilihat mel-
alui jenis grief yaitu ekspresi fisik hilangnya
selera makan, sulit tidur dan sakit, ekspresi
kognitif kebingungan, ketidak percayaan, dan
ketergantungan pada kenangan mengenai
ayah, ekspresi afektif putus asa dan perasaan
sedih, ekspresi tingkahlaku menarik diri dari
lingkungan dan melalui tahap grief yaitu ta-
hap awal seperti tidak percaya dan bingung
serta mengekspresikan perasaan melalui me-
nangis yang berlangsung lebih kurang dua
minggu, tahap pertengahan seperti perilaku
obsesif dengan mengulang kenangan saat
bersama ayah berlangsung setelah lebih dari
dua minggu hingga satu tahun, dan tahap ke-
luarganya berlangsung setelah satu tahun.
Dampak grief yang dialami remaja pasca ke-
matian ayah yaitu efek fisik badan menjadi
kurus dan sulit tidur, efek emosional ataupun
psikologis, penurunan prestasi sekolah, dan
efek sosial menutup diri dan tertutup terhadap
lingkungan.
Koocher dan Gudas (1992) dengan
tepat menyatakan bahwa asumsi remaja ten-
tang kematian yakni tidak nyamannya remaja
dengan kematian, bukan realitas kemampuan
remaja untuk memahami dan mengatasi ke-
matian. Sebagai akibatnya, remaja memiliki
42