Makna kematian orangtua bagi remaja adalah tema utama dalam penelitian ini, yang mengeksplorasi dampak emosional dan psikologis kehilangan. Penelitian ini melibatkan sepuluh remaja yang telah kehilangan satu atau kedua orangtua mereka, menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Hasil menunjukkan bahwa kehilangan orangtua mengakibatkan perasaan sedih, penolakan, dan kebutuhan akan figur pengganti. Penelitian ini juga membahas bagaimana dukungan sosial dapat membantu remaja dalam menghadapi kehilangan. Temuan ini relevan bagi para psikolog, pendidik, dan keluarga yang ingin memahami dampak kematian orangtua pada perkembangan remaja.

Key Points

  • Menyelidiki dampak emosional kehilangan orangtua pada remaja.
  • Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi untuk analisis.
  • Menemukan bahwa remaja merasakan kehilangan sebagai kehilangan kasih sayang dan rasa aman.
  • Menekankan pentingnya figur pengganti dalam proses pemulihan remaja.
  • Membahas dukungan sosial sebagai faktor penting dalam menghadapi kehilangan.
Star Dust
Author:Nurhidayati
8 pages
Language:Indonesian
Type:Research Paper
Star Dust
Author:Nurhidayati
8 pages
Language:Indonesian
Type:Research Paper
133
/ 8
Makna Kematian Orangtua Bagi Remaja.... Nurhidayati
Makna Kematian Orangtua Bagi Remaja
(Studi Fenomenologi Pada Remaja Pasca Kematian Orangtua)
Nurhidayati, Lisya Chairani
Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
email : lisyachairani@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna kematian orangtua bagi remaja.
Subjek penelitian adalah remaja putra dan putri yang telah meninggal salah satu atau
ke dua orang tuanya, berjumlah sepuluh orang. Pendekatan yang digunakan adalah
kualitatif fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kematian orang
tua bagi remaja adalah kehilangan. Adapun kehilangan yang dirasakan oleh remaja
meliputi kehilangan sosok pemberi perhatian dan kasih sayang, kehilangan model,
kehilangan sumber rasa aman, dan kehilangan teman berbagi. Remaja mengungkap-
kan perasaan kehilangannya dengan menangis, merasa sedih, melakukan penolakan,
dan menyesal. Pasca kematian orangtua kebutuhan utama remaja adalah tersedi-
anya figur pengganti. Figur pengganti yang dapat berfungsi mengisi kehilangan akan
menghasilkan perilaku sosial yang bertanggung jawab, membantu remaja menerima
kematian orangtua sebagai takdir dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik serta
tercapainya kemandirian emosional. Sebaliknya figur pengganti yang tidak berfungsi
mendorong terjadinya penyimpangan perilaku sosial dan gangguan moral pada re-
maja yang menglami kehilangan.
Kata kunci: kematian, orang tua, remaja
Abstract
The aims of this research was to find the meaning of parental death among adoles-
cents. Research participants were ten adolescents who loss one of or both their par-
ents. Using qualitative approach these research find the meaning of parental death is
loosing. Loosing parent lead to lack of resources for normal development such as role
model, love, caring, and friendship. The expression of loosing is crying, denying, sad,
and regret. The effects of parental death relates to availability of functioning of sig-
nificant others. Significant others as a subtitute parent is important variabel to protect
adolenscent from interpersonal problems and vice versa.
Keywords : death, loss, parent, adolenscent
Pendahuluan
Kematian merupakan bagian yang
tidak terlepas dari kehidupan manusia. Ke-
matian merupakan fakta hidup, setiap manu-
sia di dunia pasti akan mati. Kematian tidak
hanya dialami oleh kaum lanjut usia, tapi juga
oleh orang-orang yang masih muda, anak-
anak bahkan bayi. Seseorang dapat mening-
gal karena sakit, usia lanjut, kecelakaan dan
sebagainya. Jika seseorang meninggal dunia,
peristiwa kematian tersebut tidak hanya meli-
batkan dirinya sendiri namun juga melibatkan
orang lain, yaitu orang-orang yang ditinggal-
kannya, kematian dapat menimbulkan pen-
deritaan bagi orang-orang yang mencintai
orang tersebut (Turner & Helms dalam Ca-
hayasari, Tt).
Setiap orang yang meninggal akan
disertai dengan adanya orang lain yang dit-
inggalkan, untuk setiap orangtua yang menin-
ggal akan ada anak-anak yang ditinggalkan.
Kematian dari seseorang yang kita kenal
terlebih kita cintai, akan sangat berpengaruh
terhadap kehidupan selanjutnya. Apa lagi jika
orang tersebut dekat dengan kita, orang yang
dikasihi, maka akan ada masa dimana kita
akan meratapi kepergian mereka dan mera-
sakan kesedihan yang mendalam.
Peristiwa kematian juga mempen-
garuhi proses perkembangan, hal ini dikare-
nakan kematian itu menimbulkan duka yang
mendalam bagi remaja dan rasa duka itu
menyebabkan munculnya penolakan, tidak
mampu menerima kenyataan, perasaan be-
bas, putus asa, menangis, resah, marah, per-
asaan bersalah, merasa kehilangan, rindu,
perasaan tidak rela. Adapun faktor yang me-
nyebabkan rasa duka yang dialami subjek
yaitu hubungan individu dengan almarhum,
proses kematian, jenis kelamin orang yang
ditinggalkan, latar belakang keluarga, dan
dukungan sosial.
Kematian salah satu atau ke dua or-
angtua akan menyisakan luka yang men-
dalam bagi remaja. Bahkan tidak jarang re-
maja mengalami shock dan sangat terpukul.
Krisis yang ditimbulkan akibat kehilangan
41
Jurnal Psikologi, Volume 10 Nomor 1, Juni 2014
orang tua memiliki dampak serius dalam ta-
hapan perkembangan remaja.
Masa remaja yang merupakan tong-
gak penting dalam pembentukan identitas
tentunya sangat membutuhkan dukungan
dari orang-orang yang dicintainya, dalam hal
ini orang tua. Orang tua yang menanamkan
nilai-nilai dasar, menyediakan kasih sayang,
dukungan baik berupa moril maupun materil,
menjadi role model bagi anaknya.
Kematian orang tua menjadi peris-
tiwa yang sangat berarti bagi remaja karena
dengan demikian keluarganya tidak lagi utuh.
Akan banyak perubahan dan penyesuaian
yang terjadi. Hal ini juga tidak menutup ke-
mungkinan dapat menimbulkan konflik dalam
diri remaja.
Berdasarkan uraian di atas maka tu-
juan penelitian ini adalah untuk memahami
makna kematian orangtua bagi remaja. Meng-
gali bagaimana remaja menghadapi kematian
orang tua. Adapun rumusan masalah yang
ingin peneliti gali dalam penelitian ini adalah:
Apa Makna Kematian Orangtua Bagi Remaja
dan bagaimana remaja menghadapi kema-
tian orangtua.
Kematian
Kematian merupakan fakta biologis,
akan tetapi kematian juga memiliki dimensi
sosial dan psikologis. Secara biologis kema-
tian merupakan berhentinya proses aktivitas
dalam tubuh biologis seorang individu yang
ditandai dengan hilangnya fungsi otak, ber-
hentinya detak jantung, berhentinya tekanan
aliran darah dan berhentinya proses perna-
fasan. Ismail (2009) mengatakan bahwa se-
cara medis kematian dapat dideteksi yaitu
ditandai dengan berhentinya detak jantung
seseorang. Namun pengetahuan tentang ke-
matian sampai abad moderen ini masih san-
gat terbatas. Tidak ada seorangpun yang tahu
kapan dia akan mati. Karena itu tidak sedikit
pula yang merasa gelisah dan stress akibat
sesuatu hal yang misterius ini. Dimensi psikol-
ogis dari kematian menekankan pada dinami-
ka psikologi individu yang akan mati maupun
orang- orang di sekitar si mati baik sebelum
dan sesudah kematian (Hartini,2007).
Sihab (2008) mengatakan bahwa ke-
matian pemutusan segala kelezatan duni-
awi, dia adalah pemisah antara manusia dan
pengaruh kenyamanan hidup orang- orang
yang lalai. Hal ini sejalan dengan firman Allah
dalam Al-Qur’an “Dimana saja kamu berada,
kematian akan mendapatkan kamu, kendati-
pun kamu di dalam benteng yang tinggi dan
kokoh” (Annisa:4:78). Maut juga disebut se-
bagai pengancam hidup bagi manusia, seh-
ingga kebanyakan dari individu takut akan
kematian itu sendiri. Berdasarkan uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa kematian ter-
jadi ketika berhentinya proses aktivitas dalam
tubuh biologis seorang individu yang ditandai
dengan hilangnya fungsi otak, berhentinya
detak jantung, berhentinya tekanan aliran da-
rah dan berhentinya proses pernafasan serta
terhentinya hubungan manusia dengan alam
dunia.
Subjek dalam penelitian ini adalah re-
maja. Remaja berasal dari kata adolensence
(remaja) masa perkembangan transisi antara
anak-anak menjadi dewasa yang mencakup
perubahan biolologis, kognitif, dan sosial
emosional (Santrock, 2003). Sedangkan men-
urut Hurlock remaja adalah tumbuh menjadi
dewasa. Istilah adolesence mempunyai arti
yang lebih luas mencakup kematangan men-
tal, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1997).
Salah satu peristiwa hidup yang diha-
dapi remaja adalah kematian anggota kelu-
arga dicintai atau kematian sendiri yang akan
datang kepada mereka yang mengancam
jiwa. Kematian bukan masalah yang biasa
bagi remaja. Sekitar 4% remaja di Amerika
Serikat kehilangan orang tua karena kema-
tian sebelum mereka mencapai usia 18, dan
1,5 juta remaja tinggal di keluarga orang tua
tunggal karena kematian (US Biro Sensus,
1993).
Menghadapi kematian orang tua di
usia dini merupakan ujian yang berat bagi
setiap remaja. Sebagaimana penelitian sebe-
lumnya yang telah dilakukan oleh Sari yang
berjudul Grief (Kedukaan) Pada Remaja Pas-
ca Kematian Ayah. Adapun hasil penelitian ini
menunjukkan gambaran grief yang dialami re-
maja pasca kematian ayah dapat dilihat mel-
alui jenis grief yaitu ekspresi fisik hilangnya
selera makan, sulit tidur dan sakit, ekspresi
kognitif kebingungan, ketidak percayaan, dan
ketergantungan pada kenangan mengenai
ayah, ekspresi afektif putus asa dan perasaan
sedih, ekspresi tingkahlaku menarik diri dari
lingkungan dan melalui tahap grief yaitu ta-
hap awal seperti tidak percaya dan bingung
serta mengekspresikan perasaan melalui me-
nangis yang berlangsung lebih kurang dua
minggu, tahap pertengahan seperti perilaku
obsesif dengan mengulang kenangan saat
bersama ayah berlangsung setelah lebih dari
dua minggu hingga satu tahun, dan tahap ke-
luarganya berlangsung setelah satu tahun.
Dampak grief yang dialami remaja pasca ke-
matian ayah yaitu efek fisik badan menjadi
kurus dan sulit tidur, efek emosional ataupun
psikologis, penurunan prestasi sekolah, dan
efek sosial menutup diri dan tertutup terhadap
lingkungan.
Koocher dan Gudas (1992) dengan
tepat menyatakan bahwa asumsi remaja ten-
tang kematian yakni tidak nyamannya remaja
dengan kematian, bukan realitas kemampuan
remaja untuk memahami dan mengatasi ke-
matian. Sebagai akibatnya, remaja memiliki
42
Makna Kematian Orangtua Bagi Remaja.... Nurhidayati
kekhawatiran ketika berpikir tentang kema-
tian, dan kekhawatiran terhadap pertanyaan
tentang kematian.
Studi lain menunjukkan bahwa tidak
semua remaja mampu memahami kematian
akan tetapi peristiwa itu akan sangat terkait
erat dengan masa perkembangan remaja ter-
utama pada perkembangan kognitif (Koocher,
1973; Putih, Elsom, & Prawat, 1978). Tidak
mengherankan, remaja yang telah memiliki
pengalaman tentang kematian tampaknya
memiliki pemahaman yang lebih matang dari
pada rekan-rekan mereka yang kurang ber-
pengalaman (Schonfeld& Kappelman, 1990).
Tidak adanya pengalaman tentang
kematian membuat remaja kurang mampu
dalam memahami konsep tentang kematian.
Pengembangan konsep kematian tampa-
knya tergantung sampai batas tertentu pada
perkembangan kognitif. Penelitian menunjuk-
kan bahwa pemahaman remaja terhadap ke-
matian bervariasi secara sistematis dengan
usia (dan mungkin dengan tingkat perkem-
bangan kognitif remaja). Namun, untuk rema-
ja khususnya, pengalaman tentang kematian
anggota keluarga tercinta dapat berfungsi un-
tuk mempercepat pemahaman tentang kema-
tian.
Berkembangnya pemahaman remaja
ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan
kemampuan kognitifnya. Menurut Piaget
(Santrock, 2007) remaja termotivasi untuk
memahami dunianya karena hal ini merupa-
kan bentuk adaptasi biologis. Secara aktif
remaja mengkonstruksikan dunia kognitifnya
sendiri dengan demikian informasi- informasi
dari lingkungan tidak hanya sekedar tertu-
ang dalam pikiran mereka. Agar remaja lebih
mampu memahami dunia, remaja mengor-
ganisasikan pengalaman- pengalaman yang
mereka peroleh dan kemudian memisahkan
gagasan- gagasan yang menurut mereka
penting dan gagasan yang menurut mereka
tidak penting yang kemudian akan digabung-
kan satu sama lain. Remaja juga akan men-
gadaptasikan pemikiran-pemikiran mereka
yang melibatkan gagasan baru yang kemu-
dian akan menambah pemahaman mereka.
Peristiwa kematian orang tua tentunya mem-
beri pengalaman tersendiri bagi remaja den-
gan segala keterbatasan pemahamannya.
Untuk itu, penelitian ini berupaya untuk meng-
gali bagaimana remaja memaknai kematian
orang tuanya dan bagaimana peristiwa itu
memberi pengarug pada proses perkem-
bangannya.
Metode
Penelitian ini bertujuan untuk meng-
etahui makna kematian orangtua bagi re-
maja. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan kualitatif. Adapun pendekatan
kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi
dan memahami proses atau kejadian, suatu
fenomena, atau suatu konsep yang terlalu
kompleks untuk diuraikan variabel-variabel
yang menyertainya (Creswell, 2002).
Responden pada penelitian ini ber-
jumlah sepuluh orang dengan karakteristik
sebagai berikut : (1) Remaja laki-laki dan
perempuan yang meninggal salah seorang
dari orang tuanya. (2) Berusia antara 14 –
20 tahun, karena sudah mampu mendesk-
ripsikan tentang kematian. (3) Remaja yang
sudah meninggal salah satu maupun ke dua
orang tuanya.
Pengumpulan data dilakukan meng-
gunakan metode wawancara mendalam.
Wawancara bersifat retrospektif mengingat
peristiwa yang dialami responden adalah
peristiwa yang telah lama terjadi. Wawancara
dilakukan beberapa kali bersama responden
dan informan tambahan yaitu pengasuh atau
saudara reponden.
Analisis data dilakukan dengan kod-
ing terbuka pada hasil verbatim yang diper-
oleh. Selanjutnya hasil koding dikelompokkan
sesuai dengan tema yang dimunculkan dari
verbatim. Keabsahan data pada penelitian ini
dilakukan dengan member checking (melaku-
kan pengecekan hasil verbatim kepada re-
sponden terkait kesesuaian data dengan apa
yang telah disampaikan kepada peneliti).
Hasil
Kehilangan
Rice (dalam Cahayasari, 2008) meng-
emukakan bahwa kehilangan orang yang
dicintai diidentifikasi sebagai suatu kehilangan
yang sangat mendalam. Rasa kehilangan
bersifat individual, karena setiap individu
tidak akan merasakan hal yang sama tentang
kehilangan. Sebagian individu akan merasa
kehilangan hal yang biasa dalam hidupnya
dan dapat menerimanya dengan sabar. Indi-
vidu yang tidak mampu menerima kehilangan
orang yang disayang dalam hidupnya akan
merasa sendiri dan berada dalam keterpuru-
kan. Sebagaimana ungkapan Isna:
“Isna merasa nggak punya siapa- siapa lagi di
dunia ini dan hal ini lebih berat dari pada saat
ayah meninggal” (W.01.13-14.Isna).
Kematian ke dua orangtua membuat
Isna merasa tidak memiliki siapa- siapa. Na-
mun berbeda dengan Denda, sebagaimana
ungkapannya:
“Saat itu Denda benar- benar sedih kak dan
nggak tau harus berbuat apa. Dan berfikir
apa yang bisa Denda perbuat jika tanpa ibu”
(W.01.23-24.Denda).
Kehilangan tidak hanya dirasakan
oleh individu pada saat berusia remaja, ke-
43
/ 8
End of Document
133

FAQs

What are the main findings about parental death's impact on adolescents?
The research indicates that the death of a parent leads to profound feelings of loss among adolescents, characterized by the absence of attention, love, and a sense of security. Adolescents express their grief through various emotional responses, including crying, denial, and feelings of regret. The study highlights that the significance of parental death is often linked to the availability of substitute figures, which can either help adolescents cope or lead to social behavioral issues.
How do adolescents express their feelings of loss after a parent's death?
Adolescents articulate their feelings of loss through emotional expressions such as crying and sadness, and they may experience denial and regret. The study notes that these feelings are often accompanied by a sense of isolation, as they grapple with the reality of their situation. The emotional turmoil can also manifest in behaviors that reflect their struggles with acceptance and adjustment to the new family dynamics.
What role do substitute figures play for adolescents after losing a parent?
The presence of substitute figures, such as relatives or step-parents, is crucial for adolescents who have lost a parent. These figures can help fulfill the emotional and psychological needs that arise from the loss, such as providing love, attention, and guidance. If these substitute figures function effectively, they can foster responsible social behavior and emotional independence in adolescents. Conversely, ineffective substitute figures may lead to social deviance and moral issues.
What are the emotional stages adolescents go through after a parent's death?
Adolescents typically experience several emotional stages following the death of a parent, including shock, denial, and a profound sense of loss. Initially, they may struggle to accept the reality of the situation, often feeling confused and overwhelmed. As time progresses, they may experience obsessive thoughts about their deceased parent and engage in behaviors reflecting their grief. Ultimately, these stages can lead to personal growth and a deeper understanding of their emotional landscape.
How does parental death affect an adolescent's development?
The death of a parent significantly impacts an adolescent's developmental trajectory, often leading to emotional distress and behavioral challenges. The research suggests that adolescents may face difficulties in achieving emotional independence and may struggle with social interactions. However, those who can reinterpret their loss positively often demonstrate increased responsibility and maturity, suggesting that the experience can also serve as a catalyst for personal growth.
What factors influence the grief experienced by adolescents after losing a parent?
Several factors influence the grief adolescents experience after losing a parent, including the closeness of their relationship with the deceased, the circumstances surrounding the death, and the level of social support available. The study highlights that adolescents who had a strong emotional bond with their parent tend to experience deeper grief. Additionally, the presence of supportive family members can significantly mitigate the negative effects of their loss.
What is the significance of understanding the meaning of parental death for adolescents?
Understanding the meaning of parental death is crucial for adolescents as it shapes their coping mechanisms and emotional responses. The research emphasizes that recognizing the multifaceted impact of such a loss helps in addressing their psychological needs effectively. By exploring these meanings, caregivers and mental health professionals can provide better support, facilitating healthier coping strategies and emotional resilience in adolescents.