Teori Kebenaran Perspektif Filsafat Ilmu
Fikrah, Vol. 2, No. 1, Juni 2014
255
Oleh sebab itu, rangkaian pertanyaan yang biasa diajukan untuk
mendalami permasalahan yang dipersoalkan di dalam epistemologi
adalah; apakah pengetahuan itu, apakah yang menjadi sumber dan
dasar pengetahuan? Apakah pengetahuan itu adalah kebenaran
yang pasti ataukah hanya merupakan dugaan?
5
. Dengan kata lain,
epistemologi berarti “studi atau teori tentang pengetahuan” (the
study or theory of knowledge). Namun, dalam diskursus filsafat,
epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang membahas
asal usul, struktur, metode-metode, dan kebenaran pengetahuan.
Selain itu, dapat pula dikatakan bahwa epistemologi adalah
cabang dari filsafat yang secara khusus membahas “teori tentang
pengetahuan”.
6
Pada awalnya, pembahasan dalam epistemologi lebih
terfokus pada sumber pengetahuan (the origin of knowledge)
dan teori tentang kebenaran (the theory of truth) pengetahuan.
Pembahasan yang pertama berkaitan dengan suatu pertanyaan
apakah pengetahuan itu bersumber pada akal pikiran semata
(‘aqliyyah), pengalaman indera (tajribiyyah), kritik (naqdiyyah)
atau intuisi (hadasiyyah). Sementara itu, pembahasan yang kedua
terfokus pada pertanyaan apakah “kebenaran” pengetahuan itu
dapat digambarkan dengan pola korespondensi, koherensi atau
praktis-pragmatis. Selanjutnya, pembahasan dalam epistemologi
mengalami perkembangan, yakni pembahasannya terfokus pada
sumber pengetahuan, proses dan metode untuk memperoleh
pengetauan, cara untuk membuktikan kebenaran pengetahuan,
dan tingkat-tingkat kebenaran pengetahuan.
Makalah ini mencoba mengeksplorasi kedudukan
pengetahuan dan kebenaran. Apa hakekat dan sumber
pengetahuan? Bagaimana kebenaran dalam pandangan filsafat
5
Jan Hendrik Rapar, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta; Kanisius, cet. 6,
2002), hlm. 38.
6
Perbedaan pokok antara teori-teori pengetahuan adalah perbedaan
antara metode rasionalisem dan teori empirisme. Contoh pengetahuan yang
paling menjanjikan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah. Dengan demikian
dapat diuraikan bah metode yang paling cocok dengan ilmu pengetahuan harus
diterima. Akan tetapi tentu saja beberapa bidang ilmu pengetahuan lebih
empiris dibanding yang lain. Lihat Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 212-213.